Kamis, 05 Mei 2011

Kita harus senantiasa dalam kesadaran penuh, dan yakin bahwa apapun yang kita lakukan selalu ada yang menyaksikannya. Dan kelak di hari pertanggungjawaban, mereka akan memberikan kesaksian, tanpa ada sedikitpun yang terluput. Lewat firman-firman-Nya yang suci dan terjaga, yang termaktub dalam Al-Qur’anul Karim, Allah SWT menyampaikan siapa saja yang akan menjadi saksi atas setiap perbuatan kita.

 

Allah, Rasul-Nya dan Orang-orang Beriman

“Dan katakanlah, “Beramallah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amalmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Qs. At-Taubah: 105).
Semoga ayat ini selalu menjadi pengingat bagi kita. Bahwa setiap amal yang kita lakukan, disaksikan oleh Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Dalam terminologi Syiah, orang-orang beriman yang dimaksud adalah para maksumin as. Bagi yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka merasa selalu disaksikan adalah juga bagian dari keyakinan yang mesti menghujam dalam ke sanubari. Keyakinan merasa disaksikan adalah termasuk derajat tinggi dalam maqam keimanan seseorang. Ketika ditanya apakah ihsan itu, Nabi Muhammad saww menjawab, “Ihsan adalah kamu beramal seakan-akan melihat Allah, kalau kamu tidak bisa melihatnya, maka yakinlah, Allah menyaksikanmu.”
Di sini kita merasa perlu mengajukan pertanyaan, mengapa Allah harus mengikutkan Rasul-rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai saksi, dan tidak cukup dengan Dia saja yang menjadi saksi?. Di sini Allah ingin menunjukkan keMaha Kuasaan-Nya, merasa disaksikan oleh Rasul-rasul-Nya dan para Aimmah as, mendidik kita untuk menjadi insan yang tahu berterimakasih. Mengingatkan kita, bahwa keimanan dan keyakinan yang benar kita kepada Allah SWT tidak datang serta-merta, namun melalui perantaraan mereka. Mengingatkan kita akan dakwah dan perjuangan mereka yang penuh pengorbanan. Keyakinan disaksikan oleh mereka, mendidik kita bahwa ada manusia-manusia yang pada hakikatnya seperti kita juga, semasa hidup mereka layak sebagaimana kesibukan kita, beraktivitas sebagaimana biasanya, makan, minum, berjalan, bekerja dan beristrahat. Namun kemudian, mendapat posisi yang teramat istimewa di sisi Allah, karena ketakwaan dan loyalitas mereka di jalan Allah. Karenanya, untuk menjadi orang-orang yang didekatkan di sisi Allah sebagaimana mereka, menjadi sebuah keniscayaan bagi kita untuk mengenal dan menjadikan mereka sebagai suri tauladan dalam kehidupan kita. Di antara hikmahnya pula, kita akan merasa senantiasa punya keterikatan dan kedekatan maknawi dengan para Anbiyah as dan para Aimmah as, bahwa diantara bentuk keadilan Ilahi disetiap masa, umat manusia bisa merasakan keberkahan akan kehadiran mereka. Kalau mereka menjadi saksi atas setiap perbuatan kita, maka apa yang menghalangi mereka untuk menjadi penolong, ketika berseru kepada mereka?. Allah SWT berfirman, “Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya.” (Qs. Yunus: 3). Syafa’at dan berbagai bentuk pertolongan semuanya pada hakikatnya datangnya dari Allah, melalui perantara orang-orang yang di ridhai-Nya. Dan adakah, yang lebih diridhai Allah melebihi keridhaan-Nya kepada para Anbiyah as dan Aimmah as?. Allah SWT berfirman, “Dia mengetahui yang ghaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapapun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya..” (Qs. Al-Jinn: 27).
Karenanya, tidak ada hujjah apapun bagi kita, bahwa dengan wafatnya para Rasul ataupun kegaiban imam di masa kita, menjadikan kita berkeyakinan bahwa mereka adalah sekedar orang-orang yang telah berlalu dan tidak memiliki sangkut paut apapun dalam kehidupan keseharian kita. Bersama Allah, mereka menyaksikan apapun yang kita lakukan. Mereka ikut bangga dan turut mendo’akan ketika yang kita lakukan adalah kebaikan, begitupun sebaliknya, betapa malu dan geramnya jika mengaku sebagai pecinta mereka namun yang dilakukan justru keburukan demi keburukan. Imam Husain as bersabda, “Bukanlah pedang-pedang terhunus di Karbalalah yang melukaiku, yang melukaiku adalah kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan orang-orang yang mengaku sebagai pecintaku.”
Setiap hendak melakukan sesuatu, semoga firman Allah SWT berikut senantiasa menjadi pengingat kita.
"Kalau begitu…” kata Allah, “ Saksikanlah (Hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu." (Qs. Ali-Imran: 81)

Kesaksian Para Malaikat

“Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qs. Qaf: 18).
Saksi selanjutnya adalah para malaikat. Mereka atas perintah Allah SWT tidak sekedar mengawasi dan menyaksikan saja apa yang sedang dan telah kita perbuat, namun lebih dari itu mereka mencatatnya dengan catatan yang sangat detail. Allah SWT berfirman, “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." (Qs. Al Jaatsiyah: 29). Kelak di hari perhitungan hisab, malaikat akan memberikan kesaksiannya dengan memberikan catatannya kepada tiap-tiap manusia. Allah SWT berfirman, “Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.” (Qs. Al-Isra’: 13). Dari penjelasan Al-Qur’an, ada tiga cara malaikat memberikan catatannya atas amal-amal perbuatan manusia.
Pertama, memberikannya dari sebelah kanan, “Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: "Ambillah, bacalah kitabku (ini)." (Qs. Al Haaqqah: 19). Dalam lanjutan ayat ini kita membaca, bahwa orang-orang yang diberikan kitab dari sebelah kanannya adalah mereka yang semasa hidupnya di dunia sangat yakin bahwa kelak apapun yang mereka lakukan akan diperhitungkan dan dimintai pertanggungjawaban. Karenanya, mereka hanya sibuk melakukan amalan-amalan kebaikan, kata mereka, “Sesungguhnya  aku yakin, bahwa (suatu saat) aku akan menerima perhitungan terhadap diriku.” (Qs. Al-Haaqqah: 20). Keyakinan inilah, yang akan membentengi seseorang dari berniat ataupun hendak melakukan keburukan-keburukan, sebab kemaksiatan dan dosa-dosa hanya akan mengotori catatan amalnya. Allah SWT berfirman kepada mereka yang menerima kitab catatan amalnya dari sebelah kanan, “Makan dan minumlah dengan nikmat, karena amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang lalu.” (Qs. Al-Haaqqah: 24).
Kedua, memberikannya dari sebelah kiri., “Dan adapun orang yang kitabnya diberikan dari sebelah kirinya, maka dia berkata, ‘Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku.” (Qs. Al-Haaqqah: 25). Bagi yang menerima catatan amalnya dari sebelah kiri yang ada hanyalah penyesalan. Ia sendiri malu kalau sampai harus membaca sendiri kitab catatan amalnya, sehingga menganggap lebih baik, jika catatan itu tidak diperlihatkan saja. Mereka adalah orang-orang yang semasa hidupnya tidak beriman kepada Allah, tidak juga kepada para malaikat pengawas yang mencatat amal perbuatannya, sehingga kesibukannya adalah memperturutkan apa yang dikehendakinya. Setelah menerima kitab amalnya dari sebelah kiri, Allah SWT berfirman kepada mereka, “Ambillah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Karena dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar, dan juga tidak menganjurkan kepada (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka ia tidak memiliki seorang teman pun pada hari ini di sini, dan tiada (pula) makanan sedikit pun kecuali dari darah dan nanah, yang tidak akan dimakan kecuali oleh orang-orang yang berdosa.” (Qs. Al-Haaqqah: 30-37).
Ketiga, memberinya dari arah belakang, “Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang. Maka dia akan berteriak, “Celakalah aku”, dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (Qs. Al Insyiqaaq: 10-12). Saya terpancing untuk membayangkan, saking geramnya malaikat pencatat, maka ia menyerahkan catatannya dengan cara melempari punggung pemiliknya, tidak menyerahkan dengan menunggu sipemiliknya berbalik terlebih dahulu. Pada kelompok ini, mereka bukan hanya tidak beriman kepada Allah, mereka bahkan yakin bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada-Nya. Lebih dari itu, mereka malah bangga dan bergembira telah melakukan dosa-dosa. Kebanggaan atas dosa-dosalah yang malah mendorong seseorang untuk cenderung memperbanyak dosa. Catatan amalnya penuh oleh tumpukan dosa-dosa dan sepah-sepah kekejian. 
Lebih dari itu, bukan hanya malaikat pencatat saja yang mengetahui apa yang telah tercatat dari kitab catatan amalan-amalan kita, namun juga malaikat-malaikat yang tinggi kedudukannya di sisi Allah, “(Yaitu) kitab yang tertulis, yang disaksikan oleh para malaikat yang didekatkan kepada Allah (muqarrabin).” (Qs. Al-Muthafifin: 20-21).
Semoga dengan menyadari keberadaan dua malaikat pengawas di sisi kanan dan kiri kita yang tak pernah luput dari mencatat apapun yang kita lakukan, mendorong kita untuk senantiasa berbuat kebaikan dan malu jika keduanya harus menorehkan catatan hitam dalam catatan amal kita, yang di hari akhirat kelak, akan dibukakan dan diperlihatkan kepada semua penghuni langit, “(Ingatlah) suatu hari betis tersingkap (lantaran rasa takut yang menguasai) dan mereka dipanggil untuk bersujud, tapi mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tertunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) telah diseru untuk bersujud, ketika mereka dalam keadaan sejahtera. (Tapi sekarang mereka tidak mampu lagi untuk itu).” (Qs. Al-Qalam: 42-43).

Kesaksian Dunia Beserta Segala Isinya

“Dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.” (Qs. Al-Isra’: 44)
Saya pilih ayat ini, untuk memberikan kita keyakinan, bahwa sesungguhnya segala yang maujud di alam semesta ini pada hakikatnya memiliki perasaan, ilmu dan kemampuan. Dari firman Allah SWT tersebut, sangat gamblang menjelaskan bahwa segala sesuatu bertasbih kepada Allah SWT. Hanya saja, kita tidak mengerti dan mampu memahami bagaimana tasbih mereka. Gunung, awah, curahan hujan, benda-benda langit, tanah, pepohonan dan binatang-binatang semuanya di alam maujud ini bertasbih dan senantiasa memuji Allah dengan caranya sendiri-sendiri. Allah SWT berfirman, “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) sepertimu.” (Qs. Al-An’am: 38).
Oleh manusia-manusia pilihan dan yang diridhai-Nya, tasbih-tasbih dan bentuk peribadatan segala benda-benda yang cenderung kita klaim sebagai benda mati mampu mereka pahami dan dengarkan. Diriwayatkan, setiap Nabi Daud as membaca kitab Zabur yang memuat firman-firman suci Allah yang diwahyukan kepadanya, dia mendengar benda-benda di sekelilingnya mengulang-ulangi apa yang dibacanya. Beliau mendengarkan suara tasbih dan munajat yang dipanjatkan lirih oleh gunung, pintu, dinding rumah, pepohonan dan burung-burung. Allah SWT berfirman, “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud.” (Qs. Saba’: 10). Diriwayatkan pula, suatu hari Rasulullah saww mendengarkan rintihan tangis dari sebuah pohon kurma. Ia bersedih karena sebelumnya setiap Rasulullah saww menyampaikan khutbahnya, Nabi sering menyandarkan  tubuh mulianya di batangnya. Setelah dibuatkan mimbar oleh sahabat-sahabatnya, maka sejak saat itu Rasulullah saww menyampaikan khutbahnya di atas mimbar. Untuk menghentikan tangisnya, Nabi pun seringkali mendekap untuk menenangkannya. Sayang, sepeninggal Nabi, pohon yang sangat mencintai dan dicintai Nabi ini, atas perintah khalifah kedua, ditebang dan disingkirkan.
Dari riwayat tersebut,  tersampaikan, segala benda yang ada disekitar kita, bukan hanya sekedar mampu bertasbih dan memuji Allah saja, namun juga memiliki perasaan sebagaimana manusia. Mereka diberi kemampuan oleh Allah untuk bisa melihat dan mendengar apapun yang kita lakukan. Mereka bisa memberi respon kecewa, marah, sedih ataupun turut bahagia atas apa-apa saja yang telah menjadi kesibukan dan kesenangan kita. Namun mereka hanya bisa diam, terpaku dan sekedar membiarkan saja apapun yang hendak kita lakukan. Mereka tidak punya kuasa apa-apa, sampai hari, dimana Allah memberikan kemampuan kepada mereka untuk membeberkan aib dan memberikan kesaksian.
Allah SWT berfirman, “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat) dan bumi telah mengeluarkan beban berat (yang dilindungi)nya, dan manusia bertanya, “Mengapa bumi (jadi begini)?.” Pada hari itu, bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan yang demikian itu kepadanya.” (Qs. Al-Zalzalah: 1-5).
Dari ayat ini, Allah menjelaskan bahwa bumipun kelak di yaumul hisab, akan memberikan kesaksiannya. Meskipun secara dzahir beban berat yang dimaksud akan dikeluarkan bumi adalah batu-batuan, lahar, lumpur panas dan sebagainya, namun juga bisa kita tafsirkan, beban berat yang dimaksud adalah tumpukan aib-aib, dosa-dosa dan kekejian yang selama ini dilakukan umat manusia di atas permukaannya, yang bumi terasa berat lagi untuk menanggungnya, sehingga hari itu bumi menceritakan segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya. “Pada hari itu, bumi menceritakan beritanya.” Kata Allah. Pada saat itu manusia betapa terkejutnya dan bertanya kepada bumi, “Mengapa engkau memberikan kesaksian yang memberatkanku?”. Bumi menjawab, “Karena Allah SWT telah memberikan izin kepadaku untuk berbicara. Hari ini adalah hari diungkapkannya segala aib dan cela. Kalaupun ketika di dunia aku diam itu karena aku belum mendapat izin saja untuk berbicara.”
Mullah Shadra ra, dengan bahasa irfani mengungkapkan, “Seluruh wujud mempunyai ilmu, perasaan, kemampuan dan kehendak, seukuran seberapa luas wujudnya.” 
Pintu, dinding, meja, kursi, laptop, jam dinding yang berdetak, lampu, malam, siang, cahaya, kegelapan, botol-botol, gelas, ranjang, kelambu, sajadah dan debu-debu yang beterbangan setiap saat menyaksikan apa-apa yang kita lakukan. Kelak mereka akan menceritakan beritanya. Makanan dan minuman akan menuturkan kisahnya dengan cara apa ia diperoleh dan dihabiskan. Film-film dan gambar-gambar akan berbagi cerita. Sepatu, parfum dan pakaian yang kita kenakan, kesemuanya akan memberikan kesaksian, kemana dan untuk keperluan apa saja ia dikenakan.
Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya berita yang akan disampaikan oleh bumi ialah bumi menjadi saksi terhadap semua perbuatan manusia, sama ada lelaki ataupun perempuan terhadap apa yang mereka lakukan di atasnya. Bumi akan berkata: Dia telah melakukan itu dan ini pada hari itu dan ini. Itulah berita yang akan diberitahu oleh bumi.” (HR. Imam Tirmizi).
Nah, mau kemana kita?. Kalau mau bermaksiat, silahkan cari tempat dimana tak satupun yang akan memberikan kesaksiannya kelak.
Allah SWT berfirman,“Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam aneka ragam kelompok, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Qs. Al-Zalzalah: 6-8).

Ketika Tangan dan Kaki Bersaksi

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan bersaksilah kaki mereka terhadap apa yang dahulu telah mereka kerjakan”. (Qs.Yasin: 65)
Saksi selanjutnya adalah anggota tubuh sendiri. Diantara para saksi, bisa jadi kesaksian yang diberikan anggota tubuh sendirilah yang paling dramatis sekaligus menyakitkan. Semasa di dunia, anggota tubuh sepenuhnya taat pada majikannya. Ia dikendalikan sepenuhnya, untuk memegang, berjalan dan beraktivitas. Tanpa kita sadari mereka seolah-olah, teman yang sangat loyal dan setia. Namun di padang Masyhar, ketika manusia diperhadapkan di pengadilan Ilahi yang Maha Dahsyat, anggota tubuh kita malah membeberkan aib-aib dan kesalahan kita secara terang-terangan dan terbuka. Tangan yang selama ini menjadi sahabat terdekat, yang membantu terpenuhinya segala hasrat dan keinginan, yang membuat kita mampu menggenggam dan meraih segala impian dan cita-cita, atas kehendak Allah membeberkan tentang kekejian, kebohongan, pengkhianatan, kejahatan dan kemunafikan. Tidak ada yang luput dan meleset sedikitpun. Kaki yang dahulunya loyal dan setia dilangkahkan kemana saja, berkonspirasi untuk mengumbar kejahatan-kejahatan apa saja yang telah dilakukannya.
Allah SWT berfirman, “Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang benar lagi yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).” (Qs. An-Nur: 24-25).
Setiap anggota tubuh memberikan kesaksiannya atas amal-amal kita di dunia. Mata akan bersaksi atas apa yang dilihatnya, telinga bersaksi atas apa yang telah didengarnya, tangan berkisah tentang apa saja yang telah digenggam dan disentuhnya, kakipun menuturkan kembali riwayat perjalanannya layaknya reportase jurnalistik saking mendetailnya. Namun ada perlunya juga kita mengajukan pertanyaan, apa hikmahnya Allah memerintahkan kepada seluruh anggota tubuh untuk turut memberikan kesaksian?. Apakah saksi-saksi sebelumnya belumlah cukup?. Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” (Qs. Al-Kahfi: 54), di antara hikmahnya, kalau manusia masih bisa berkelit dan membantah kesaksian-kesaksian yang telah diberikan sebelumnya, namun dengan kuasaNya, anggota tubuh tidak bisa mengingkari berbagai hal yang telah dilakukannya, mereka akan menceritakannya sedetail-detailnya. Ditutup atau dikuncinya mulut, bukan berarti mulut terhalangi dari memberi kesaksian, melainkan maksudnya, mulut berbicara bukan lagi atas kehendak pemilik sebelumnya, semuanya telah kembali kepada Allah dan dengan izin-Nya, mulut dan lidahpun diperkenankan memberikan kesaksiannya.
Lidah, tangan dan kaki pada hari itu menjadi saksi-saksi nyata yang tak terbantahkan lagi, mengingat kebersamaannya selama di dunia dalam kehidupan manusia. Bersama lidah, tangan dan kaki, kebajikan-kebajikan ditunaikan, bersamanya pula, kemaksiatan diselenggarakan. Bersamanya, pengabdian maupun pengkhianatan, kesetiaan maupun perselingkuhan berjalan saling tumpang tindih dan berebut pengaruh. Manusia bisa saja membantah dan mengelak dari catatan amalnya, namun tidak kuasa lagi membantah, ketika anggota tubuhnya sendiri yang memberi kesaksian. Maka yang  ada tinggal kepasrahan menanti nasib, tidak ada lagi daya dan upaya selain keputus asaan, karena persaksian telah menjadi kuat dan pembuktian sudah menjadi akurat.
“Dan (ingatlah) hari (ketika) para musuh Allah digiring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan (semuanya). Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab, “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. Kamu senantiasa menyembunyikan dosa-dosamu bukan sekali-kali lantaran kamu takut terhadap persaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu, tetapi karena kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan ini adalah prasangka jelek yang kamu miliki sangka terhadap Tuhan-mu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs. Fushilat: 19-23).
Yang tersisa hanyalah sebuah protes yang tak berarti, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?”
Allah SWT menjawab, “ …agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah..”(Qs. An-Nisa: 165). 
Nainawa Teenegers 

Sabtu, 23 April 2011

Keutamaan Sayyidah Fathimah Az-Zahra as

895735_rose.jpg
Pada suatu hari ummul mukminin Aisyah berkata: “Rasulullah (pada waktu ajalnya sudah mendekat) berkata:“Wahai Fathimah! Apakah engkau tidak bahagia sebagai penghulu para wanita dua alam dan penghulu para wanita beriman?

——————————————————
Mengenal Keutamaan Sayyidah Fathimah Az-Zahra as
Oleh: Fathimah as-Segaff*
Pendahuluan
Keberadaan seorang figur bagi manusia adalah sebuah fitrah. Hal ini dapat dilihat dalam fase-fase kehidupan manusia mulai dari kanak-kanak, remaja sampai dewasa yang senantiasa mencari seorang model yang akan ia jadikan cermin bagi kehidupannya. Pada masa kanak-kanak karena ruang lingkup pergaulan terbatas, maka yang menjadi figur adalah orang yang ada di sekitarnya seperti; ayah, ibu, guru dan lainnya. Pada usia remaja dan dewasa, karena pengetahuan pengalaman dan pergaulan semakin bertambah, maka ada kemungkinan ia akan mencari model dan figur yang ideal baginya
Sebenarnya kebutuhan terhadap seorang figur adalah kembali pada fitrah cinta pada kesempurnaan, dengan kata lain manusia senantiasa mencari kesempurnaan dengan meniru prilaku serta tindak tanduk figurnya. Begitu besarnya pengaruh seorang figur, ia mampu menjadikan seorang manusia bahkan masyarakat menjadi baik atau buruk. Manusia sendiri, dikarenakan keterbatasannya, terkadang salah dalam memilih seorang figur. Untuk mengatasi hal ini Tuhanl, Pencipta yang mengetahui segala kebutuhan, memberikan seorang contoh agar manusia tidak salah dalam memilih seorang figur.
Berkenaan dengan Nabi Muhammad saww, Allah berfirman:“Dan pada diri Rasul terdapat tauladan yang baik”.(al-Ahzab: 21). Allah telah memperkenalkan Rasul sebagai tauladan dan figur bagi kita. Sementara Rasul memperkenalkan Sayyidah Fathimah pula sebagai tauladan. Akan tetapi mungkinkah kita dapat meneladani seseorang tanpa mengenali kepribadiannya, sebagaimana pepatah yang mengatakan,“tak kenal maka tak sayang”. Di sini kita akan mencoba mengenal setetes dari lautan kehidupan Bunda Fathimah az-Zahra as, karena kita tidak akan mampu mengenal sisi kehidupan beliau secara keseluruhan. Namun bukan berarti kita tidak berusaha untuk mengenalnya, seperti kaidah yang mengatakan “tidak dapat diketahui semuanya bukan berarti ditinggal semuanya”.
Siapakah Fathimah az-Zahra as?
Sayiddah Fathimah as adalah putri Rasulullah, dan Khodijah. Beliau lahir pada tanggal 20 Jumadits-Tsani tahun 5 Bi’sat di kota suci Mekkah. Beliau memiliki empat orang anak yang bernama: Hasan, Husain, Zainab dan Ummu Kultsum. Suami beliau adalah manusia mulia dan pribadi paling utama pada zamannya setelah Rasulullah yaitu Imam Ali as.
Beliau adalah penerus berlangsungnya keturunan Rasulullah. Ketika salah seorang musyrik mengatakan kepada Rasul: “Wahai abtar!” Rasul mengadukan hal tersebut kepada Allah. Lalu Allah menurunkan
surat al-Kautsar dan memberikan berita kepada Rasul bahwa akan terlahir darinya kebaikan yang sangat banyak yaitu Fathimah sebagai penerus generasi beliau. Beliau juga dikatakan sebagai ibu para imam, karena semua para imam terlahir darinya.[1] Fathimah memiliki 9 buah nama di antaranya yaitu: Fathimah, Shadiqah, Mubaraqah, Thaahirah, Zakiyyah, Raadziyah, Mardziyah, Muhadatsah.[2]

Beberapa Keutamaan Fathimah as
Banyak keutamaan-keutamaan Sayyidah Fathimah yang disebutkan dalam riwayat-riwayat. Dalam tulisan ini hanya dipaparkan beberapa riwayat yang menyebutkan keutamaan-keutamaan pribadi agung tersebut. Di antaranya sebagai berikut:
Sebab Penciptaan Alam Semesta
Pada saat Nabi Adam as belum tercipta, Allah swt telah menciptakan nur beberapa manusia suci. Mereka adalah Nabi Muhamad, Ali as, Hasan as dan Husain as. Dalam sebuah hadis Rasul bersabda: “Aku, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain bertasbih kepada Tuhan dibalik arsy-Nya dan para malaikatpun bertasbih mengikuti kami..”.
Inilah nama-nama orang ketika Tuhan berkata kepada Adam as: “Lihatlah ke atas arsy! Di
sana tertulis: Tiada Tuhan selain Allah Muhamad utusan Allah, Ali bin Abu Thalib pemimpin para mukmin, istrinya Fathimah adalah penghulu para wanita serta Hasan dan Husain adalah penghulu para pemuda surga”.

Lalu Nabi Adam bertanya, “Wahai Tuhanku! Siapakah mereka? Allah berfirman,“Mereka adalah keturunanmu, kalau tidak karena mereka maka tidak akan Aku ciptakan kamu”.[3]
Fathimah Bidadari Manusia
Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda:“Fathimah adalah bidadari surga yang berbentuk manusia, di kala aku merindukan surga maka aku akan menciumnya”.[4]
Penghulu para Wanita Dua Alam
Pada suatu hari ummul mukminin Aisyah berkata: “Rasulullah (pada waktu ajalnya sudah mendekat) berkata:“Wahai Fathimah! Apakah engkau tidak bahagia sebagai penghulu para wanita dua alam dan penghulu para wanita beriman?[5]
Wanita Surga Terbaik
Ibnu Abbas meriwayatkan hadis dari dimana Rasul di mana beliau bersabda: “Fathimah adalah wanita penghuni surga terbaik”.[6]
Parameter Kemurkaan Tuhan
Imam Ali as berkata: “Rasulullah suatu hari berkata kepada Fathimah: “Karena kemurkaanmu Allah menjadi murka dan karena keridhoanmu Allah menjadi ridho.”[7]
Keluasan Syafa’at Fathimah as
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa syafa’at beliau sangat luas sekali. Syafa’at beliau bukan hanya untuk para pencintanya tapi juga mencakup teman para pencinta beliau dan teman-teman para pecinta beliau.[8]
Dan hadis lain yang jumlahnya cukup banyak, seperti sabda Rasul: “Fathimah adalah bagian dariku”. Yang harus diingat, hadis-hadis kemuliaan beliau yang diriwayatkan Rasul bukan dikarenakan Rasul adalah ayahnya, lantas memuji-muji beliau. Hadis tersebut diucapkan bukan secara emosional, karena kita tahu apa yang diucapkan oleh Rasul semuanya berdasarkan wahyu sebagaimana yang tercantum dalam surat an-Najm ayat: 3.
Kelahiran Fathimah as
Sebagaimana keberadaan beliau adalah sosok yang agung, maka tidak mengherankan kalau kelahiran beliaupun berbeda dengan kelahiran lainnya. Beliau tercipta setelah ayahnya berpuasa empat puluh hari dan memakan jamuan buah-buahan surga yang dibawa Jibril. Setelah Rasul memakan buah tersebut, beliau diperintahkan Allah untuk menemui istrinya. Akhirnya Khadijah mengandung. Ketika dalam kandungan pun, Fathimah memperlihatkan kekhususan di mana beliau dapat berbicara dengan ibunya. Beliau bahkan menjadi teman sang ibu yang sedang bersedih akibat perkataan para wanita Quraisy yang menyalahkannya atas kesediaan menikah dengan si miskin dan yatim piatu, Muhamad.
Hal ini terbukti dari riwayat yang menyatakan bahwa pada suatu hari Rasul memasuki rumah, beliau melihat Khadijah berbicara dengan seseorang lantas beliau berkata:“Wahai Khadijah sedang berbicara dengan siapa? Beliau menjawab:“Aku berbicara dengan anak yang ada dalam kandunganku”.
Saat kelahiran beliau pun tiba, empat wanita teladan datang dan meperkenalkan diri sebagai utusan Tuhan untuk membantu Khadijah as melahirkan Fathimah as. Mereka adalah Sarah (istri Nabi Ibrahim), Asyiah (istri Firaun), Kulsumah (saudari Nabi Musa as) dan Maryam (ibu Nabi Isa as).[9]
Kecintaan Rasul pada Fathimah
Sebagaimana yang telah disinggung di atas bahwa kecintaan dan perhatian Rasul kepada Fathimah as bukan semata berdasarkan emosi seorang ayah terhadap anak, tetapi dikarenakan perintah Allah dan kelayakan pribadi Fathimah as itu sendiri. Hadis di bawah ini merupakan bukti kecintaan Rasul terhadap Fathimah yang tiada taranya. Ummul mukminin Aisyah berkata:
“Setiap kali Fathimah mengunjungi Rasul maka Rasul akan mengucapkan selamat dan sebagai penghormatan terhadap Fathimah beliau akan bangun dari tempat duduk, lalu mencium tangannya dan mendudukkan Fathimah di tempat duduknya”.
Demikian pula ketika Rasul hendak bepergian, maka orang yang terakhir melepas kepergiannya adalah Fathimah dan orang pertama yang dikunjungi Rasul setelah kembali dari bepergian adalah Fathimah, putri tercintanya.
Cinta Rasul kepada beliau tiada taranya, dan Rasul bersabda: “Fathimah bagian dari diriku, barangsiapa membuat dia marah, maka telah membuat marah diriku”. Begitu seringnya Rasul menampakkan kecintaan terhadap Fathimah as sehingga menyebabkan Aisyah Ummul Mukminin merasa iri terhadap Fathimah as, seraya berkata kepada Rasul: “Wahai Rasul kenapa engkau sering menciumnya…seolah-olah engkau ingin memberi makan madu padanya? Lalu Rasul menjawab: “Ya”, lalu beliau menceritakan peristiwa mi’raj dan mengatakan bahwa Fathimah tercipta dari buah surga.

Surat Cinta Imam Khomeini kepada Sang Istri

Surat cinta Khomeini muda kepada istri terkasih
oleh Saleh Lapadi pada 22 Februari 2011 jam 11:56
Dear kasihku…


Kupersembahkan jiwaku untukmu…

Saat ini, ketika aku diuji berpisah dari anak-anakku tersayang dan penguat hatiku, aku kemudian teringat padamu dan keindahan wajahmu yang terlukis di dalam cermin hatiku.


Kasihku…

Aku berharap semoga Allah senantiasa menjagamu dan memberikan kesehatan dan kebahagiaan dalam lindungan-Nya. Sementara untukku, segala kesulitan yang ada telah berlalu. Alhamdulillah apa yang terjadi sampai saat ini adalah kebaikan dan sekarang aku tengah berada di kota Beirut yang asri.[1]


Sejujurnya, ketiadaanmu di sisiku membuat perjalanan ini menjadi sepi. Dengan hanya melihat kota dan laut yang ada merupakan pemandangan yang sedap dipandang mata. Aku tak dapat menghitung betapa besar keharuanku ketika mengingat kekasihku tidak di sisiku menemaniku menatap pemandangan indah yang meresap di kalbu.


Dar har hal, malam ini adalah malam kedua aku menanti kapal yang akan membawa kami. Sesuai dengan ketentuan yang ada, keesokan hari akan ada kapal yang bertolak dari sini ke Jeddah. Sayangnya, karena kami agak terlambat sampai di sini  harus menanti kapal yang lain. Untuk saat ini apa yang harus dilakukan belum jelas. Aku berharap semoga Allah dengan belas kasih-Nya kepada kakek-kakekku yang suci, sebagaimana Ia mensukseskan perjalanan seluruh hamba-Nya untuk melaksanakan haji, memberikan kesempatan yang sama pula kepada kami.

Dari sisi ini aku agak sedikit sedih dan gelisah, namun Alhamdulillah kondisiku sehat bahkan semakin baik dan lebih meyakinkan. Sebuah perjalanan yang indah, sayangnya dan sekali lagi sayangnya, engkau tidak bersamaku di sisiku. Hatiku merindukan putramu (Sayyid Musthafa). Aku sangat berharap bahwa mereka berdua[2] senantiasa selamat dan bahagia di bawah lindungan dan bimbingan Allah swt.


Bila engkau menulis surat kepada ayahmu dan ibu serta nenekmu sampaikan salamku juga kepada mereka. Aku telah menyiapkan diriku menjadi pengganti ziarah kalian semua. Sampaikan juga salamku kepada adikmu Khanum Shams Afagh. Dan lewat adikmu sampaikan salamku kepada Agha Alavi. Sampaikan salamku kepada Khavar Sultan dan Rubabeh Sultan. Katakanlah kepada mereka tentang lembaran lain dari surat ini untuk disampaikan kepada Agha Syaikh Abdul Husein.


Semoga hari-hari kalian dilalui dengan panjang umur dan kemuliaan.


Duhai kasihku…


Belahan jiwaku…

Ruhullah saat ini bak gambar kosong yang sedang menanti keberangkatan yang tak kunjung datang.[3]


NB: Surat ini ditulis pada bulan Farvardin tahun 1312 H.S. (sekitar 77 tahun yang lalu) sambil menanti kelahiran putra keduanya.(Saleh L)

Minggu, 27 Maret 2011

Munajat





Ya Allah curahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad. Pohon kenabian, tempat kelahiran risalah, tempat para malaikat datang silih berganti, sumber-sumber ilmu, dan ahlulbait wahyu. Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad, kapal penyelamat yang berlayar di tengah-tengah gelombang kehidupan yang dahsyat; akan aman orang yang menaikinya dan akan tenggelam orang yang meninggalkannya; orang yang mendahului mereka akan menyimpang, orang yang tertinggal akan binasa, dan orang yang selalu bersama mereka akan menjumpai mereka.
Ya Allah, curahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad, benteng yang kokoh, penolong orang yang terjepit musibah nan sengsara, tempat pelarian orang-orang yang lari, dan penjaga orang-orang yang menginginkan penjagaan. Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad, shalawat tak terhingga yang menjadikan mereka ridho dan sebagai balasan dari kami bagi hak Muhammad dan keluarga Muhammad, dengan perantara daya dan kekuatan dari-Mu wahai Tuhan sekalian alam.
Ya Allah, curahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad yang suci, bajik dan terpilih, yang telah kau wajibkan atas kami hak-hak, ketaatan, dan berwilayah kepada mereka. Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad, bangunlah hatiku dengan tatanan ketaatan-Mu, jangan kau hinakan aku dengan bermaksiat kepada-Mu, dan limpahkanlah kepadaku rasa peduli terhadap orang-orang yang telah Kau sempitkan rezekinya(fakir miskin) karena anugrah luas yang telah Kau limpahkan atasku, karena keadilan yang telah Kau curahkan atas diriku, dan karena Engkau masih menghidupkanku di bawah naungan rahmat-Mu.
Ya Allah bantulah kami untuk mengikuti sunah Rosulullah saw dan menggapai syafaatnya. Ya Allah, jadikanlah ia pemberi syafaatku dan jalan terang menuju haribaan-Mu, serta bantulah aku untuk mengikutinya sehingga aku menjumpai-Mu pada hari kiamat dalam keadaan ridho terhadapku dan melupakan dosa-dosaku, sedangkan Engkau telah memastikan rahmat dan keridhoan-Mu terhadapku serta telah menempatkanku di rumah keabadian dan tempat orang-orang yang baik...